Ustaz Abdul Somad Dicekal di Eropa Karena Dituding ISIS

Ustaz Abdul Somad Dicekal di Eropa Karena Dituding ISIS

Ustaz Abdul Somad bercerita mengenai perjalanan dakwahnya kepada Imam Shamsi Ali, Imam dari Islamic Center of New York. UAS dituduh ISIS.

Dalam bahasan yang berlangsung di YouTube tersebut, UAS berbicara tentang Tantangan dan Peluang Dakwah: Indonesia & US. Di sana, UAS ditanya tentang mengapa seorang UAS bisa dilarang masuk ke beberapa tempat. Padahal sejauh ini, UAS tidak pernah bicara menakutkan.

Pertanyaan itu pun membuat UAS untuk bercerita cukup panjang. Ia mengisahkan mengenai pengalamannya ketika masuk Swiss dan Belanda.

“Saya sampai di Swiss, karena khawatir masuk, visanya emang Belanda, tapi masuk Swiss. Begitu sampai di imigrasi, mereka tak benarkan saya masuk,” ucap UAS.

“Ketika saya tanya, mereka memperlihatan secarik kertas. Mereka katakan saya pernah menyampaikan ceramah di Belanda, dan saya punya paspor itu dicap untuk tak boleh masuk Eropa. Saya bilang ini paspor baru, dia minta paspor lama, saya bilang nggak mungkin saya bawa. Saya nggak pernah masuk Eropa,” lanjut UAS.

 

Tantangan dan Peluang Dakwah Indonesia & US

 

Setelah menunggu selama beberapa jam, UAS pun akhirnya dideportasi.

“Setelah 5 jam, mereka deportasi, pulang melalui Thailand, kemudian ke Malaysia. Itu untuk visa Swiss dan Belanda,” imbuhnya.

Tidak hanya ke dua negara itu, UAS juga pernah mendapat undangan ke Inggris. Kali ini kasusnya berbeda, karena UAS sudah sejak awal dilarang masuk.

“Kemudian ada udangan ke Inggris, mereka lebih cepat lagi, ketika boarding, pesawat Royal Brunei, satu jam setelah check in, mereka terkonek jaringan internasional, pesawat Royal Brunei tak izinkan saya berangkat, visa saya dicancel, padahal visa itu sudah ada,” ujarnya.

Tidak cuma dicekal ke Eropa, UAS juga mengisahkan dirinya dilarang ke Timor Leste. Ketika itu, ia akan bertemu Uskup dan juga Xanana Gusmao.

“Begitu sampai di airport, saya ditahan. Saya tanya, larangan apa ini?” katanya

“Mereka bilang, dua jam sebelumnya, kami diberitahu bapak nggak boleh masuk. Mereka bilang saya terindikasi ISIS, dia sambil senyum-senyum, dia bayangkan ISIS itu sangar sekali, kok ini ISIS-nya lucu,” sambungnya.

“Akhirnya saya naik lagi ke pesawat, tak beberapa lama pramugari minta saya turun. Karena ada presiden di atas pesawat itu mau ke Jakarta. Dia nggak mau satu pesawat dengan teroris. Akhirnya saya turun menunggu pesawat berikutnya. Saya sampai sekarang nggak tahu, apa yang menakutkan,” pungkasnya.

 

Bagikan ke media sosial :